Entri Populer
- Daftar Alamat Perusahaan Tambang
- Struktur Organisasi dan Tenaga kerja di Pertambangan
- [Software] Surpac 6.1.2
- [Tutorial] MineScape
- [Tutorial] Desaign Pit Surpac
- Mengenal Autocad 2D
- Gambar Macam-Macam Mata bor
- Perguruan Tinggi Teknik Pertambangan di Indonesia
- PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.
- [Tutorial] Surpac Block Modelling
DRAGLINE
“Dragline” adalah alat yang cocok untuk :
1. menggali “loose” material
2. menggali di bawah “working level” dimana “dragline” berada
3. menggali material-material di bawah air.
Selain itu “dragline” sangat cocok untuk menggali “soft material”, dengan syarat ukuran
“track” dari “dragline” harus :
- lebih lebar
- lebih panjang daripada ukuran semestinya
hal ini dimaksudkan untuk menghindari amblasnya “dragline” pada daerah yang terdiri dari “soft material”.
Perlu diingat bahwa “dragline ini bekerja secara “overcasting” yaitu menumpahkan material, dengan demikian :
- ukuran “bucket”-nya harus lebih besar daripada “dipper” pada kapasitas yang sama
- waktu mengeruk, “bucket” tidak boleh terlalu munjung sebab material akan tumpah pada saat diayun ke atas.
Ukuran “boom” dan “bucket” dari “dragline” tergantung pada jenis material yang akan digali. Apabila materialnya lunak dan ringan maka ukuran “bucket” boleh lebih besar.
Spesifikasi “Dragline”
Ukuran “dragline”
Ukuran “dragline” (size of dragline) didasarkan atas ukuran “bucket”-nya, dan dinyatakan dengan cu yd (cubic yard). Meskipun sebenarnya “bucket” dari “dragline” dapat diganti-ganti. Penggantian macam dan ukuran “bucket” bergantung pada:
- panjang “boom”
- macam material yang digali.
Ukuran “dragline” adalah :
- ukuran kecil, memiliki “bucket” ¼ - 2 cu yd
- ukuran sedang, memiliki “bucket” 2 – 8 cu yd
- ukuran besar, memiliki “bucket” 8 – 35 cu yad atau lebih.
“Bucket” dengan ukuran sama mungkin mempunyai berat “bucket” yang berlainan, ini tergantung pada material atau batuan yang akan digali.
Macam-macam “dragline”
Didasarkan pada “mounted”-nya, “dragline” digolongkan menjadi tiga jenis,
yaitu :
1. “crawler mounted dragline” (gambar a)
2. “wheel mounted dragline” (gambar b )
3. “truck mounted dragline”. (gambar c )
Sumber: RL Peurifoy (1979)
GAMBAR A CRAWLER MOUNTED DRAGLINE
Sumber: RL Peurifoy (1979)
GAMBAR B WHEEL MOUNTED DRAGLINE
Sumber: RL Peurifoy (1979)
GAMBAR C TRUCK MOUNTED DRAGLINE
Berdasarkan berat “bucket” (pada ukuran yang sama) ada tiga macam “bucket”,
yaitu :
1. “light bucket”, untuk menggali “loose dry material”
2. “medium bucket”, digunakan untuk “general purpose”, dapat untuk menggali
“compacted sand” atau “loose sand” dan “gravels”
3. “heavy duty bucket”, untuk menangani “broken rock” atau “abrasive material”.
Sumber: Brinton Carson A (1961)
GAMBAR BUCKET DRAGLINE
Cara kerja dan penggunaan “dragline
Kemampuan kerja (working range) setiap “dragline” berubah-ubah, tergantung
pada :
1. panjang “boom”
2. “boom angle”.
Semakin besar panjang “boom” maka ukuran “bucket” dapat diganti atau dirubah sehingga “boom angle”-nya menyesuaikan.
a. “Maximum digging depth”
Kedalaman penggalian maksimum “dragline” tergantung pada :
- jenis dan sifat tanahnya
- kondisi tanah pada lereng “bank” (atau jenjang)
“dragline” umumnya dioperasikan untuk menggali “soft material” (soil) yang biasanya merupakan “water saturated soil” yang mempunyai “angle of repose” kecil.
Apabila “toe” dari material yang mempunyai “angle of repose” kecil maka biasanya akan dipilih “dragline” dengan “boom” yang panjang. Karena semakin kecil “angle of repose” maka akan semakin jauh “toe” dari pusat timbunan.
b. “Maximum digging reach”
Jangkauan penggalian maksimum “dragline” tidak hanya tergantung pada kondisi atau keadaan tanah (soil) saja, tetapi juga tergantung pada panjang dari “boom”-nya. Selain itu juga tergantung pada keahlian dan ketrampilan operator dalam menunjamkan (casting) “bucket”.
Apabila “bucket” tidak ditunjamkan dengan baik/tepat (pada posisi digging position), akan menyebabkan panjang pengerukan (length of drag) menjadi pendek, akibatnya dalam “bucket” tidak dapat penuh pada saat pengerukan.
c. “Dumping radius”
Radius penumpukan material dari “dragline” bervariasi, tergantung pada “boom angle”-nya. Apabila “boom”-nya ditegakkan maka “dumping radius” akan semakin kecil (artinya boom angle semakin besar).
d. “Maximum dumping height”
Ketinggian penimbunan maksimum “dragline” dapat diatur dengan merubah “boom angle”. “Angle of boom” digunakan untuk mengontrol ketinggian efektif dari “spoil banks”, namun demikian perlu diingat bahwa semakin besar “boom angle” memang “dumping height”-nya semakin besar tetapi mengakibatkan “digging reach”-nya akan mengecil/memendek.
Jangkauan kerja dan cara penggunaan “dragline” dapat dilihat pada gambar
Keterangan :
J boom length, lb
K boom angle, deg A dumping radius, ft B dumping height, ft
C max. digging depth, ft
D digging reach
Sumber: Brinton Carson A (1961)
GAMBAR 3. 50
TYPICAL DRAGLINE WORKING RANGE
Sumber: Brinton Carson A (1961)
GAMBAR PENGGUNAAN DRAGLINE
Produksi (output) Dragline bergantung pada :
i. Macam material
ii. Kedalaman penggalian (depth of digging)
iii. Sudut putar (Angle of Swing)
iv. Macam bucket (light, medium, apa heavy duty bucket) dan ukuran bucket
v. Panjang boom
vi. Kondisi medan / tempat kerja (Job Condition)
vii. Kondisi management
viii. Maksud penumpahan (back filling atau untuk dimuatkan pada truck)
ix. Bila bekerja untuk memuati truck; ukuran bak truck menentukan produksi dragline.
x. Keterampilan operator dragline
xi. Kondisi fisik dragline dan mesinnya.
Selengkapnya...BACK HOE
Adalah alat penggali yang cocok untuk menggali parit atau saluran-saluran. Gerakan
“bucket” atau “dipper” dari “back hoe” pada saat menggali arahnya adalah kearah badan (body) “back hoe” itu sendiri. Jadi tidak seperti “power shovel”, dimana arah penggaliannya menjauhi badan (body) “power shovel
Spesifikasi “back hoe”
Spesifikasi “back hoe” dapat dilihat pada gambar
Macam-macam ”back hoe”
Macam- macam “back hoe” berdasarkan penggerak “dipper”-nya, terdiri atas :
1. “Hydraulically operated hoe” :
- “Crawler mounted Hydraulically operated hoe” (gambar3.41)
- “Wheel mounted Hydraulically operated hoe” (gambar 3.42)
2. “Cable operated hoe” (gambar 3.40)
. Cara kerja “back hoe”
Cara kerja back hoe dapat dilihat pada gambar
Back hoe melakukan penggalian (cutting) dengan menempatkan dirinya diatas jenjang (bench). Setelah dipper terisi penuh, boom diangkat kemudian memutar (swing) kearah truck yang menempatkan pada posisi untuk dimuati dan dipper menumpahkan galiannya pada bak truck (dump to truck).
Dilihat dari jumlah penempatan posisi truck untuk dimuati terhadap posisi back hoe (biasa disebut pola gali muat), maka ada 3 pola;yaitu (lihat gambar ) :
1. Single Back up
Truck memposisikan untuk dimuati pada satu tempat
2. Double Back Up
Truck memposisikan diri untuk dimuati pada dua tempat
3. Triple Back Up
Truck memposisikan diri untuk dimuati pada tiga tempat.
Posisi truck untuk dimuati hasil galian back hoe (pola galian muat); dapat pada satu level (sama-sama diatas jenjang), namun dapat pula back hoe diatas jenjang; truck berada di bawah. Untuk lebih jelasnya lihat gambar
Sumber: Ir Yanto Indonesianto
Selengkapnya...DOZER SHOVEL
“Dozer shovel” dapat dikatakan belum lama digunakan pada dunia konstruksi, “bucket” dipergunakan sebagai “attachment” yang lain pada “tractor” menggantikan blade, karena “bulldozer hanya dapat mendorong material dan kelebihan material
tercecer ke pinggir. “Dozer shovel” adalah alat yang digunakan untuk memuat material
ke dalam alat angkut. Untuk menggali, “bucket” harus didorong pada material, jika telah penuh, “tractor” mundur dan “bucket”-nya diangkat ke atas untuk selanjutnya material ditumpahkan di tempat yang dikehendaki.
Spesifikasi “dozer shovel”
Spesifikasi “dozer shovel” dapat dilihat pada gambar
Ukuran “dozer shovel”
Ukuran dari “bucket” bervariasi antara ¼ cu yd sampai dengan 25 cu yd kapasitas munjung yang terbesar. Yang biasa dipakai dan tersedia banyak adalah “dozer shovel” dengan ukuran “bucket” 5 cu yd.
“Loader bucket” sifatnya lebih permanen dipasang pada “tractor” daripada “blade
bulldozer”, tentu saja dengan memperhatikan perbandingan yang proporsional antara ukuran “bucket” dengan ukuran “tractor”, sehingga pada saat “dozer shovel” bekerja dengan kapasitas penuh pada keadaan ekstrim (suatu posisi dengan posisi “bucket” tertinggi) tidak sampai terjungkal ke depan.
Pembuat biasanya memberikan angka keamanan 2 untuk mengimbangi terjungkalnya “dozer shovel” ke depan, artinya perbandingan berat imbang dengan berat “bucket” pada waktu penuh dalam keadaan ekstrim adalah dua kali.
Untuk memperbesar angka keamanan terhadap tergulingnya “dozer shovel” maka berat “tractor” biasanya diperbesar 40 sampai 60% lebih besar dari kapasitas muatan terguling (tipping load capacity), dengan demikian ukuran “bucket” dan “tractor” harus betul-betul cocok satu sama lain.
Macam-macam “dozer shovel”
Dilihat dari roda penggeraknya ada dua macam “dozer shovel”, yaitu :
a. “Crawler mounted dozer shovel”, penggeraknya roda rantai
b. “Wheel mounted dozer shovel” (wheel loader), penggeraknya roda ban
A | B |
. Cara kerja dan penggunaan “dozer shovel”
Cara kerja “dozer shovel” dapat dilihat pada gambar. Jika daerah sekitar material yang digali adalah datar, maka “dozer shovel” dapat bekerja dengan leluasa
dalam posisi yang menyenangkan.
“Dozer shovel” sangat cocok dipakai untuk :
a. Membuat “basement”.
b. Mendorong onggokan material atau tanah kemudian dimuatkan pada “truck”.
c. Pekerjaan penggusuran atau penggalian yang bidang kerjanya satu “level” dengan
“dozer shovel” itu sendiri.
d. Sangat baik dan ekonomis apabila “dozer shovel” ini digunakan untuk pekerjaan pemuatan pada “truck” dengan jarak onggokan dari “truck” tidak lebih dari 15 feet (mempersingkat waktu).
e. Sebaiknya “dozer shovel” jangan melayani pemuatan “truck” dengan melakukan pemutaran lebih dari 90°. Semakin kecil sudut pemutaran, “body” “dozer shovel” akan semakin baik.
“Dozer shovel” (sering disebut LOADER) dalam melakukan pekerjaan gali dan muat keatas truck; maka truck harus satu level dengan “dozer shovel”. Ada beberapa posisi penempatan truck terhadap “dozer shovel” – yang demikian ini disebut “POLA MUAT”. Pola muat untuk A sampai dengan D (adalah pola dimana truck setelah menempatkan diri untuk dimuatia adala berhenti. Pola muat dengan posisi E adalah pola dimana truck bergerak maju mundur untuk dimuati “dozer shovel’
Selengkapnya...POWER SHOVEL
Spesifikasi “power shovel”
Spesifikasi “power shovel” dapat dilihat pada gambar
Ukuran “power shovel”
Ukuran besar/kecilnya suatu “power shovel” ditunjukkan oleh ukuran “dipper” yang dinyatakan dalam cuyd (cubic yard).
Besar/kecilnya power shovel yang akan dipergunakan pada suatu pekerjaan, pemindahan tanah mekanis atau pada suatu kegiatan pertambangan disamping yang
sudah dikemukakan pada butir 1a dan 1b juga bergantung dan ditentukan oleh :
a. Ukuran kapasitas bak truck
Apabila kapasitas bak truck kecil, misalnya truck 3 cu yd; maka lebih baik memakai power shovel ¾ cu yd; dibanding power shovel 1 ½ cu yd.
Sebaliknya bila dipergunakan truck 15 cu yd; maka power shovel yang dipergunakan adalah yang berukuran dipper 2 ½ cu yd (yang demikian ini, apabila power shovel berfungsi utamanya sebagai alat muat).
b. Apabila power shovel utamanya berfungsi sebagai alat gali dan hasil galiannya
kemudian dimuatkan ke bak truck, maka untuk penggalian pada material keras, sebaiknya dipilih power shovel berukuran besar, begitu pula sebaliknya.
. Macam-macam “power shovel”
| A | B |
Didasarkan atas roda penggeraknya, “power shovel” terdiri dari :
a. “Crawler mounted power shovel” (gambar a) b. Wheel mounted power shovel (gambar b)
c.“Truck mounted power shovel
C
. Cara kerja dan penggunaan “power shovel
Batas operasi kerja “power shovel” dapat dilihat pada gambar
yaitu sudut yang dibuat antara boom dengan bidang datar menyudut sebesar 45o, pekerjaan yang dilakukan dapat sebagai alat gali (utamanya) maupun utamanya alat muat. Yaitu dengan cara “dipper” (mangkuk) dikerukkan dari bawah menengadah keatas pada kaki
jenjang (power shovelnya sebagai alat gali -- excavator); atau pada kaki timbunan hasil
bongkaran (hasil peledakan) – utamanya sebagai alat muat.
Setelah “dipper” (mangkuk) penuh; kemudian superstructure (kabin beserta boom) berputar menghadap posisi truck untuk menumpahkan isi dipper keatas/kedalam bak truck, dengan membuka “dasar dipper” dengan cara menarik “latch” (grendel) sehingga isi “dipper” tertumpah.
Bila “power shovel” sebagai alat gali maka berat “counter weight”nya lebih besar dibanding, apabila “power shovel” sebagai alat muat, pada ukuran “dipper” yang sama.
a. “Power shovel” sebagai alat gali
Penggunaan “power shovel” sebagai alat gali adalah :
i. untuk membuat tanggul (embankment digging)
ii. untuk menggali secara datar (digging on horizontal plane)
iii. untuk membuat lereng (dressing slopes)
iv. untuk menggali ke arah daerah yang lebih rendah (digging below grade)
v. untuk membuat parit (digging shallow trench)
b. “Power shovel” sebagai alat muat
Penggunaan “power shovel” sebagai alat muat adalah :
i. memuat ke alat angkut (loading haul units)
ii. membuang material ke samping (side casting)
iii. menimbun ke atas tumpukan material (dumping onto spoil banks)
iv. menimbun ke dalam “hopper” (dumping into hoppers)
Selengkapnya...Dasar pemilihan ukuran dari alat gali dan muat
Alat gali dan muat antara lain adalah :
a. “Power shovel”
b. “Dozer shovel”
c. “Back hoe”
d. “Dragline
Dasar pemilihan ukuran dari alat gali dan muat adalah :
a. Adanya jaminan keselamatan kerja (safety)
Maksudnya adalah jaminan keselamatan kerja dari alat, yaitu apakah alat PTM (Pemindahan Tanah Mekanis) tersebut membahayakan operatornya atau tidak. Misalnya, suatu alat PTM dengan bagian-bagian mesin yang tidak tertutup akan lebih membahayakan daripada alat PTM dengan bagian-bagian mesin yang tertutup.
b. Ongkos gali dan muat seminimum mungkin
Suatu perusahaan pembongkaran/pemindahan tanah mekanis yang akan memilih peralatan PTM apa yang akan dipakai, terlebih dahulu harus menghitung secara teoritis tentang :
- produksinya (out put) atau kapasitas alatnya
- biaya pemilikan (cost of owning)
- biaya operasi (cost of operating)
“Cost of owning” + “cost of operating” dibagi ”out put” alat PTM merupakan ongkos pembongkaran/penggalian tanah per jam atau per ton. Ongkos pembongkaran dari suatu alat PTM yang termurah itulah yang dipilih untuk dipakai.
c. Singkronisasi dengan alat PTM lain (utamanya keserasian kerja antara alat muat dan alat angkut).
Adanya sinkronisasi dengan alat-alat PTM lain harus dipertimbangkan, sebab kelancaran pekerjaan PTM terdiri dari berbagai kegiatan kerja. Setiap kegiatan mempunyai peralatan dan kegiatan kerja yang berlainan, dengan demikian suatu
alat akan mempunyai ketergantungan terhadap alat yang lain. Sinkronisasi dalam
hal ini perlu dipikirkan agar ketergantungan kegiatan kerja antara alat satu dengan yang lain dapat lancar, sehingga setiap peralatan kerja dapat bekerja dengan baik dan tidak ada “idle capacity”
d. Penyesuaian dengan kondisi kerja
Maksud penyesuaian dengan kondisi kerja adalah agar dalam pemilihan alat gali dan muat disesuaikan dengan :
- di mana alat tersebut akan dipakai
- untuk menangani material berapa ton
- fasilitas-fasilitas kelengkapan lain (perbengkelan)
- jenis material yang akan ditangani (akan diapakan)
- kemampuan operator.
Selengkapnya...