Showing posts with label TECHNOLOGY. Show all posts
Showing posts with label TECHNOLOGY. Show all posts

Proses Pembuatan Alumunium

image

Pernah bertanya-tanya bagaimana aluminium dibuat?

Dan bagaimana itu berubah menjadi kaleng, mobil atau bagian barang  lainnya?

Proses perjalanan Bauksit menjadi alumunium panjang, melalui produksi, penggunaan dan daur ulang.

 

 

 

Bahan Baku Bauksit

Produksi Aluminium dimulai dengan bahan baku bauksit, tanah liat seperti jenis tanah yang ditemukan didaerah tropis sekitar khatulistiwa. Bauksit ditambang dari beberapa meter di bawah tanah.

Contoh Study Kasus Rehabilitasi Tambang Nikel Murrin Murrin Australia

image

Proyek Nikel Kobalt Murrin Murrin (Murrin Murrin) terletak di timur laut wilayah pertambangan emas negara bagian Western Australia.

Murrin Murrin yang dimiliki oleh Minara Resources Ltd (60%) dan Glencore International AG (40%), menambang bijih laterit dan memanfaatkan teknologi peluluhan asam bertekanan tinggi untuk mengambil nikel dan kobalt dari bijih tersebut.

[Technology] ARDVARC® 4.0

image FLANDERS has achieved another world first with ARDVARC 4.0, the first fully automated multi-pass drill rig that also incorporates the world’s first autonomous angle drill implementation.

Serving as the base system for all ARDVARC systems, this state of the art technology features:

 

    Pola Peledakan pada Tambang Terbuka

    image  Mengingat area peledakan pada tambang terbuka atau quarry cukup luas, maka peranan pola peledakan menjadi penting jangan sampai urutan peledakannya tidak logis. Urutan peledakan yang tidak logis bisa disebabkan oleh:

    - penentuan waktu tunda yang terlalu dekat,

    - penentuan urutan ledakannya yang salah,

    Pola peledakan pada tambang bawah tanah

    image Prinsip pola peledakan di tambang bawah tanah adalah sama dengan di tambang terbuka, yaitu membuat sekuensial ledakan antar lubang. Peledakan pembuatan cut merupakan urutan pertama peledakan di bawah tanah agar terbentuk bidang bebas baru disusul lubang-lubang lainnya, sehingga lemparan batuan akan terarah. Urutan paling akhir peledakan terjadi pada sekeliling sisi lubang bukaan, yaitu bagian atap dan dinding. Pada bagian tersebut pengontrolan menjadi penting agar bentuk bukaan menjadi rata, artinya tidak banyak tonjolan atau backbreak pada bagian dinding dan atap.

    Pola pengeboran pada bukaan bawah tanah

    IMG_0170 Mengingat ruang sempit yang membatasi kemajuan pengeboran dan hanya terdapat satu bidang bebas, maka harus dibuat suatu pola pengeboran yang disesuaikan dengan kondisi tersebut. Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa minimal terdapat dua bidang bebas agar proses pelepasan energi berlangsung sempurna, sehingga batuan akan terlepas atau terberai dari induknya lebih ringan. Pada bukaan bawah tanah umumnya hanya terdapat satu bidang bebas, yaitu permuka kerja atau face. Untuk itu perlu dibuat tambahan bidang bebas yang dinamakan cut. Secara umum terdapat empat tipe cut yang kemudian dapat dikembangkan lagi sesuai dengan kondisi batuan setempat, yaitu:

    Pola pengeboran pada tambang terbuka

    image Keberhasilan suatu peledakan salah satunya terletak pada ketersediaan bidang bebas yang mencukupi. Minimal dua bidang bebas yang harus ada. Peledakan dengan hanya satu bidang bebas, disebut crater blasting, akan menghasilkan kawah dengan lemparan fragmentasi ke atas dan tidak terkontrol. Dengan mem-pertimbangkan hal tersebut, maka pada tambang terbuka selalu dibuat minimal dua bidang bebas, yaitu (1) dinding bidang bebas dan (2) puncak jenjang (top bench). Selanjutnya terdapat tiga pola pengeboran yang mungkin dibuat secara teratur, yaitu: (lihat Gambar A)

    TEKNIK RIPPING KHUSUS

    clip_image002Untuk mengurangi terjadinya keausan/ tumpulnya point ripper lebih cepat dan menghindari patahnya shank ripper, diperlukan kesamaan teknik ripping yang produktif dan efektif yang dapat diterapkan dilapangan Posisi shank ripper pada awal langkah penetrasi, umumnya awal penetrasi pada tiap langkah kerja dimulai dengan memposisikan :

    · Shank ripper vertical

    · Panjang rod tilt silinder diatur 15 – 20 cm

    · Sudut point ripper 45 – 50 derajat

    TEKNIK OPERASI BULLDOZER

    clip_image002[4]

    1.Slot Dozing
    a. Cara ini memungkinkan muatan besar dapat didorong di depan blade. tehnik ini banyak dipakai dalam penimbunan dan penggusuran besar-besaran.
    b.Selalu mempergunakan gigi satu dan tidak memaksakan steering, track shoe di jaga agar tidak terjadi spining, atur tenaga dan blade control pada saat membawa beban material

    Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Sistem Penyaliran Tambang

    clip_image002[4]

    Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam merancang sistem penyaliran pada tambang terbuka adalah :

    1. Curah Hujan

    Hujan merupakan air yang jatuh ke permukaan bumi dan merupakan uap air di atmosfir yang terkondensasi dan jatuh dalam bentuk tetesan air. Sistem penyaliran tambang dewasa ini lebih ditujukan pada penanganan air permukaan, ini karena air yang masuk ke dalam lokasi tambang sebagian besar adalah air hujan.

    Macam-macam Penirisan Tambang Terbuka

    IMG_0190 1. Mine Drainage

    Upaya utk mencegah aliran air msk ke lokasi penggalian. Hal ini umumnya dilakukan utk penanganan air tnh dan air dr sumber air perm.

    a. Metode Siemen

    Pd tiap jenjang (bench) dr kegiatan penambangan dipasang pipa ukuran 8 inch, disetiap pipa tsb dibag ujung bwh dibor lb2 (perporasi), dimana pipa berlb2 berhub dgn air tnh, shg di pipa bag bwh akan terkumpul air yg selanjutnya dibuang.

    Jenis Peralatan Pemadatan “ROLLER”

    clip_image002[9] Ada beberapa metode atau cara untuk menstabilkan tanah, antara lain :
    1. dengan cara “blending” dan “mixing”
    2. dengan menebarkan “hydrate lime”
    3. dengan mencampur tanah dengan aspal (asphalt)
    4. dengan menebar semen pada tanah (cement soil stabilization)
    5. dengan memadatkan tanah (compacting the soil)
    Di sini yang akan dibahas adalah cara menstabilkan tanah dengan memadatkan tanah isian.

    Seberapa jauh, tanah akan dipadatkan tergantung untuk keperluan apa tanah
    tersebut setelah dipadatkan. Semakin padat suatu tanah (berarti void-nya semakin sedikit)
    maka ikatan butir satu dengan lainnya semakin baik atau semakin rapat, maka tanah
    tersebut semakin kuat mendukung suatu beban.
    Agar butir-butir “soil material” semakin rapat, maka perlu diberikan energi (desakan
    atau tekanan) ke dalam “soil material” tersebut. Cara pemberian energi ke dalam tanah ada
    beberapa cara, yaitu :

    SEKILAS MENGENAI PENGGUNAAN OLI BEKAS UNTUK CAMPURAN ANFO

    • SYARAT PROSES PEMBAKARAN

    image

    STOCKPILE MANAGEMEN

    Stockpile berfungsi sebagai penyangga antara pengiriman dan proses, sebagai stock strategis terhadap gangguan yang bersifat jangka pendek atau jangka panjang. Stockpile juga berfungsi sebagai proses homogenisasi dan atau pencampuran batubara untuk menyiapkan kualitas yang dipersyaratkan.

    Disamping tujuan di atas di stockpile juga digunakan untuk memcampur batubara supaya homogenisasi sesuai kebutuhan. Homogenisasi bertujuan untuk menyiapkan produk dari satu tipe material dimana fluktuasi di dalam kualitas batubara dan distribusi ukuran disamakan. Dalam proses homogensiasi ada dua tipe yaitu blending dan mixing.

    DRAGLINE

    “Dragline” adalah alat yang cocok untuk :
    1. menggali “loose” material
    2. menggali di bawah “working level” dimana “dragline” berada
    3. menggali material-material di bawah air.
    Selain itu “dragline” sangat cocok untuk menggali “soft material”, dengan syarat ukuran
    “track” dari “dragline” harus :
    - lebih lebar
    - lebih panjang daripada ukuran semestinya
    hal ini dimaksudkan untuk menghindari amblasnya “dragline” pada daerah yang terdiri dari “soft material”.
    Perlu diingat bahwa “dragline ini bekerja secara “overcasting” yaitu menumpahkan material, dengan demikian

    - ukuran “bucket”-nya harus lebih besar daripada “dipper” pada kapasitas yang sama
    - waktu mengeruk, “bucket” tidak boleh terlalu munjung sebab material akan tumpah pada saat diayun ke atas.
    Ukuran “boom” dan “bucket” dari “dragline” tergantung pada jenis material yang akan digali. Apabila materialnya lunak dan ringan maka ukuran “bucket” boleh lebih besar.

    Spesifikasi “Dragline”
    clip_image004

    BACK HOE

    Adalah alat penggali yang cocok untuk menggali parit atau saluran-saluran. Gerakan
    “bucket” atau “dipper” dari “back hoe” pada saat menggali arahnya adalah kearah badan (body) “back hoe” itu sendiri. Jadi tidak seperti “power shovel”, dimana arah penggaliannya menjauhi badan (body) “power shovel
    Spesifikasi “back hoe”
    Spesifikasi “back hoe” dapat dilihat pada gambar

    clip_image002 clip_image002


    DOZER SHOVEL

    “Dozer shovel” dapat dikatakan belum lama digunakan pada dunia konstruksi, “bucket” dipergunakan sebagai “attachment” yang lain pada “tractor” menggantikan blade, karena “bulldozer hanya dapat mendorong material dan kelebihan material
    tercecer ke pinggir. “Dozer shovel” adalah alat yang digunakan untuk memuat material
    ke dalam alat angkut. Untuk menggali, “bucket” harus didorong pada material, jika telah penuh, “tractor” mundur dan “bucket”-nya diangkat ke atas untuk selanjutnya material ditumpahkan di tempat yang dikehendaki.

    Spesifikasi “dozer shovel”
    Spesifikasi “dozer shovel” dapat dilihat pada gambar

    clip_image002


    POWER SHOVEL

    Spesifikasi “power shovel”
    Spesifikasi “power shovel” dapat dilihat pada gambar

    clip_image002 clip_image002[17]

    Ukuran “power shovel”
    Ukuran besar/kecilnya suatu “power shovel” ditunjukkan oleh ukuran “dipper” yang dinyatakan dalam cuyd (cubic yard).
    Besar/kecilnya power shovel yang akan dipergunakan pada suatu pekerjaan, pemindahan tanah mekanis atau pada suatu kegiatan pertambangan disamping yang
    sudah dikemukakan pada butir 1a dan 1b juga bergantung dan ditentukan oleh :


    Dasar pemilihan ukuran dari alat gali dan muat

    clip_image002

    Alat gali dan muat antara lain adalah :
    a. “Power shovel”
    b. “Dozer shovel”
    c. “Back hoe”
    d. “Dragline



    Dasar pemilihan ukuran dari alat gali dan muat adalah :
    a. Adanya jaminan keselamatan kerja (safety)
    Maksudnya adalah jaminan keselamatan kerja dari alat, yaitu apakah alat PTM (Pemindahan Tanah Mekanis) tersebut membahayakan operatornya atau tidak. Misalnya, suatu alat PTM dengan bagian-bagian mesin yang tidak tertutup akan lebih membahayakan daripada alat PTM dengan bagian-bagian mesin yang tertutup.

    KOMPONEN MEDAN KERJA (JOB SITE COMPONENT)

    1. Kesampaian Daerah (Accessibility; Transportation)

    Ialah tentang kesampaian daerah atau prasarana yang dipunyai atau yang tersedia pada daerah kerja. Apakah dekat jalan besar atau stasiun Kereta Api, sehingga mempermudah pengiriman alat-alat berat (peralatan mekanis), alat-alat berat biasanya dikirim ke medan kerja dengan menggunakan TRUCK TRAILER. Bila tidak ada jalan besar yang mampu dilalui TRAILER, maka harus dibuat jalan terlebih dahulu, dan ini akan berpengaruh terhadap biaya pemilikan alat (cost of ownership) dan biaya operasi (operating cost) dari peralatan mekanis tersebut.

    Bila di daerah kerja terdapat sarana jalan, perlu diketahui terlebih dahulu kelas jalan. Apakah jalan desa, ataukah jalan propinsi, kemudian jalan tersebut kelas berapa dan mampu dibebani berapa ton. Ini semua perlu diketahui terlebih dahulu, agar dalam meningkatkan daya dukung jalan sesuai dengan yang dipersyaratkan untuk membawa alat mekanis ke daerah kerja.

    2. Keadaan Tetumbuhan (Vegetation)

    Tanaman-tanaman atau keadaan pepohonan yang tumbuh di medan kerja perlu diketahui mengenai; diameter pohon-pohonnya, jumlah pohon setiap satuan luas, ketinggian rata-rata setiap pohon, dan macam pohon. Ini perlu untuk mempertimbangkan dalam melakukan pembukaan lahan di medan kerja, apakah akan ditebang satu-satu ataukah ditebang secara masal, kemudian pohonnya akan dimanfaatkan ataukah akan dibakar. Dengan demikian bisa ditentukan terlebih dahulu macam peralatan yang akan dipergunakan untuk melakukan pembabatan pohon tersebut.

    3. Cuaca (Climatic Condition)

    Pengaruh cuaca pada suatu daerah kerja (dimana akan berlangsung penggunaan peralatan mekanis) perlu diketahui, karena akan dipakai untuk memperkirakan dalam satu tahun berlangsung hujan selama berapa hari. Perlu dipahami bahwa pada waktu hujan penggunaan peralatan mekanis tidak dapat efektif. Disamping itu pada waktu hujan lebat, malah tidak dapat dipergunakan peralatan mekanis.

    Misalnya, dalam satu tahun harus dikupas tanah penutup 1,000,000 CuYd; dan dalam satu tahun turun hujan selama 2 bulan, artinya hanya bisa bekerja 250 hari kerja dari

    300 hari kerja; artinya dalam perhitungan pemindahan tanah mekanis selama satu hari, tanah yang harus dipindahkan pada pekerjaan pengupasan lapisan tanah penutup ialah

    1,000,000 CuYd : 250 hari = 4,000 CuYd/hari.

    Artinya dalam pemilihan alat-alat mekanis untuk pekerjaan pemindahan tanah ini (misal truck) harus dihitung dengan sasaran produksi pengangkutan sebesar = 4,000 CuYd/hari.

    4. Ketinggian dan Temperatur (Altitude and Temperature)

    a. Ketinggian (Altitude)

    Kemampuan mesin atau “power” mesin peralatan mekanis/berat bergantung pada ketinggian tempat dimana mesin tersebut dipergunakan, sehingga perlu diketahui tempat kerja dimana suatu alat-alat berat tersebut akan dipergunakan. Hal ini dikarenakan bahwa makin tinggi suatu tempat kerja dari permukaan air laut (pal-sea level), tekanan atmosfirnya semakin menurun. Karena tekanan atmosfir ditempat kerja tersebut menurun maka kerapatan udaranya juga menurun, yang berakibat pula jumlah oksigen ditempat tersebut juga berkurang. Hal inilah yang mengakibatkan menurunnya power untuk mesin-mesin motor bakar “IC engine” (Internal Combustion Engine).

    Oleh karena itu dalam penggunaan alat-alat besar/berat pada suatu tempat kerja diatas ketinggian air laut-pal (sea level), perlu dilakukan koreksi terhadap daya kuda (HP- horse power) dari mesin alat berat tersebut

    b. Temperatur Udara

    Naiknya temperatur udara, dapat menyebabkan efisiensi mesin menurun (engine efficiency). Bila temperatur udara naik maka kerapatan (density) udara akan turun, hal ini menyebabkan mengecilnya jumlah oxygen yang berada pada setiap volume udara. Karena

    jumlah oxygen mengecil, maka efisiensi mesin juga menurun.

    Koreksi HP terhadap Standard pressure dan Standard temperature

    Horse power (HP) mesin berubah-ubah sesuai dengan keadaan temperatur udara dan tekanan udara setempat, artinya bila temperatur dan tekanan udara berubah, maka HP mesin juga berubah. Oleh karena itu perlu diketahui HP mesin yang standard; HP mesin

    standard adalah HP yang didasarkan pada :

    - temperatur udara standard dan

    - tekanan udara standard.

    Temperatur udara standard, ialah udara yang mempunyai temperatur = 600 F

    Tekanan udara standard, ialah udara dengan tekanan = 29.92 in Hg (barometric pressure).

    Jadi bila mesin alat berat dipergunakan pada suatu daerah kerja yang mempunyai temperatur udara dan tekanan udara berbeda dari standard, maka HP mesin tersebut perlu dilakukan koreksi.

    5. Jalan Angkut, Kemiringan dan Jarak (Haul road, grade and distance)

    Keadaan jalan, jarak, kemiringan jalan dan daya dukung jalan akan sangat mempengaruhi kemampuan produksi alat berat, terutama kemampuan produksi alat angkut. Sehingga sebelum dilaksanakan suatu pekerjaan penggalian tanah atau pekerjaan yang

    menggunakan alat-alat berat, perlu diketahui keadaan tempat kerja, yang berkaitan dengan

    topografi dan struktur geologi. Karena hal tersebut yang sangat berkaitan dengan penentuan kemiringan jalan dan daya dukung jalan.

    a. Jalan Angkut (Haul Road)

    Haul road adalah jalan angkut. Jalan angkut ini harus dilihat keberadaannya, apakah becek ataukah kuat, atau cukup kasar permukaannya. Ini semua perlu ditinjau, karena

    keadaan jalan angkut akan mempengaruhi besar kecilnya rolling resistance (RR) yang ditimbulkan oleh permukaan jalan angkut terhadap roda/ban peralatan Pemindahan

    Tanah Mekanis.

    b. Kemiringan (Grade)

    Grade adalah tanjakan dari jalan angkut, kelandaian atau kecuramannya sangat mempengaruhi produksi (output) alat angkut, sebab adanya kemiringan jalan (grade) menimbulkan tahanan tanjakan (grade resistance) yang harus diatasi oleh mesin alat angkut.

    c. Jarak Angkut (Distance)

    Jarak angkut juga harus dipertimbangkan dalam menentukan kecepatan laju alat angkut tersebut. Kecepatan laju alat angkut makin cepat, maka produksi (output) alat angkut juga semakin besar. Dan ini bergantung pada gaya tarik (Rimpull – RP) yang

    tersedia pada mesin. Sedangkan gaya tarik (RP) besaranya ditentukan oleh adanya

    tahanan glinding (rolling resistence – RR) dan tahanan tanjakan (grade resistence – GR). Makin besar RP yang bisa tersedia pada mesin maka kecepatan laju alat angkut juga makin cepat, sehingga produksi (output) alat angkut semakin besar.

    Kecepatan laju alat angkut disamping ditentukan oleh tersedianya gaya tarik (RP) pada mesin, juga dibatasi oleh panjang maupun pendeknya jarak jalan angkut.

    6. Siklus Produksi (Production cycle component)

    Untuk memperoleh produksi (output) tertentu harus diperhatikan siklus produksi. Pada Pemindahan Tanah Mekanis siklus produksi dapat meliputi :

    a. Pemuatan (Loading).

    b. Pengangkutan (Hauling). c. Penimbunan (Dumping). d. Kembali (Return).

    e. Menempatkan diri (Spot).

    a. Pemuatan (Loading)

    Merupakan proses pemuatan material hasil galian oleh alat muat-loading equipment

    (power shovel,back hoe, drag line) yang dimuatkan pada alat angkut (hauling equipment). Ukuran dan tipe dari alat muat yang dipakai harus sesuai dengan kondisi lapangan dan keadaan alat angkutnya. Yang berpengaruh terhadap produksi (output)

    alat muat (loading equipment) adalah :

    i. Jenis/tipe dan kondisi alat muat (termasuk kapasitasnya). ii. Jenis/macam material yang akan dikerjakan.

    iii. Kapasitas dari alat angkut (hauling equipment). iv. Pola Muat

    v. Skill dari operatornya.

    b. Pengangkutan (Hauling)

    Merupakan pekerjaan pengangkutan material. Produksi (output) dari pekerjaan pengangkutan ini dipengaruhi oleh :

    i. Kondisi jalan angkutnya.

    ii. Banyak/tidaknya tanjakan. iii. Kemampuan pengemudi.

    iv. Dan hal-hal lain yang berpengaruh terhadap kecepatan dari alat angkut (hauling equipment).

    c. Penimbunan (Dumping)

    Merupakan pekerjaan penimbunan material. Pekerjaan penimbunan dipengaruhi oleh kondisi tempat penimbunan, mudah atau tidaknya manuver alat angkut tersebut

    selama melakukan penimbunan,dan ini dipengaruhi oleh :

    i. Cara melakukan penimbunan (side dump, rear dump atau bottom dump).

    ii. Kondisi dari material yang akan ditumpahkan (fragmentasi dan kelengketannya).

    d. Kembali (Return)

    Merupakan pekerjaan dari alat-alat angkut untuk kembali lagi ke tempat pemuatan setelah menumpahkan muatan pada dumping site (tempat penimbunan). Jadi waktu untuk kembali (return time) juga dipengaruhi oleh hal-hal yang sama dengan waktu untuk mengangkut (hauling time).

    e. Penempatan diri (Spot)

    Merupakan penempatan diri dari alat angkut (haulage unit). Cara dan mudah tidaknya haulage unit (misal truck) menempatkan diri untuk dimuati oleh alat muat (loading equipment), ditentukan oleh :

    i. Jenis alat muat (loading machine).

    ii. Lokasi atau posisi alat muat (loading equipment).

    7. Macam-macam material dan perubahan volume

    Material yang akan digali dan ditangani adalah tanah atau batuan, maka harus diketahui tentang mudah atau tidaknya material tersebut digali dan ditangani. Penggolongan

    material berdasarkan atas kemudahannya digali ada empat macam, seperti di bawah ini :

    tanah, pasir.

    clay.

    shale, compacted material.

    material yang memerlukan peledakan sebelum dapat digali, misalnya andesit, batu gamping koral.

    tahui oleh operator adalah :

    a G (Specific Gravity).

    a. Weight (berat) material

    Dalam pemilihan alat berat, tidak dapat diestimasi sebelumnya (tentang kapasitasnya) apabila belum diketahui “weight per unit” (unit berat) dari material yang

    akan ditangani. Unit berat ini ada yang mengistilahkan :

    - SG.

    - “Tonnage factor” (yaitu berat material setiap M3, misalnya 1 M3/1.5 Ton).

    b. Swell (pengembangan)

    “Swell” adalah pengembangan volume suatu material setelah digali dari tempatnya.

    Di alam, material didapati dalam keadaan padat dan terkonsolidasi dengan baik, sehingga hanya sedikit bagian-bagian kosong (void) yang terisi udara di antara butir- butirnya, lebih-lebih kalau butir-butir itu halus sekali.

    Apabila material digali dari tempat aslinya, maka akan terjadi pengembangan volume (swell). Untuk menyatakan berapa besarnya pengembangan volume itu dikenal dua istilah yaitu :

    a. Faktor pengembangan (Swell factor)

    b. Persen pengembangan (Percent swell)

    Pengembangan volume suatu material perlu diketahui, karena yang diperhitungkan pada penggalian selalu didasarkan pada kondisi material sebelum digali, yang dinyatakan dalam “pay yard” atau “bank yard” atau “bank volume” atau “in place

    volume” atau “volume insitu”. Sedangkan material yang ditangani (dimuat untuk

    diangkut) selalu material yang telah mengembang (loose volume).

    Angka-angka faktor pengembangan (swell factor) setiap klasifikasi tanah atau material berbeda sesuai dengan jenis tanahnya seperti terlihat pada table swell factor berikut ini :

    TABEL REPRESENTATIVE SWELL FOR DIFFERENT CLASSES OF EARTH

    Class of Earth

    Percent Swell (%)

    Clean sand or gravel

    Top soil

    Loamy soil Common earth Clay

    Solid rock

    5 – 15

    10 – 25

    10 – 35

    20 – 45

    30 – 60

    50 – 80